Apakah masih ada kata maaf, belas kasihan dan pengampunan di hati para manusia yang bersifat individu yang sangat mementingkan diri sendiri dan berpusat pada egosentrisme saja?
Kuwawancarai seorang wanita yang usianya jauh lebih muda dari perawakannya yang sederhana, terkesan tidak bersemangat, lemas dan pesimis dalam menghadapi hidup.
Ketika ditanyai pengalaman apa yang paling buruk yang pernah ia alami sepanjang umur hidupnya. Dengan air mata menetes cepat sekali saja, ia mengatakan bahwa ia pernah diperkosa pada masa kanak-kanaknya.
Dan ketika ditanyai pengalaman apa yang paling indah yang pernah ia alami sepanjang umur hidupnya. Jujur aku lupa apa yang dia katakan...hmm mungkin hampir tidak ada.
Perempuan yang boleh dikatakan tidak begitu jelek ini berasal dari keluarga miskin. Orang tuanya sudah meninggal. Saudara-saudaranya tidak memperdulikannya. Apakah hidup yang keras dan sulit ini membuat hubungan persaudaraan tidaklah harmonis dan dekat? Yang kurasakan dalam pancaran wajah dan bahasa tubuhnya, ia sangat sedih dan terkesan kesepian. Suram pekat menghantui kehidupannya. Hidupnya juga sudah bercerai dengan empat anaknya yang dihidupi oleh mantan suaminya di Indonesia. Sedangkan ia mencari rezeki di kota keras metropolitan internasional yang membutuhkan ketrampilan, kecekatan, dan ketabahan akan segala rintangan dan halangan yang tidak segan-segan merobek-robek harga dirinya.
Tujuannya adalah hanya sekedar mempunyai rumah atap di kampung halamannya dan melihat anak-anaknya tumbuh besar. Hanyalah keinginan yang mendasar bagi setiap orang supaya mempunyai shelter untuk tempat perlindungan dan keluarga sebagai teman di saat kapanpun juga.
Kembali lagi aku mempertanyakan pengalaman masa lalunya, ternyata pamannyalah sendiri yang memperkosanya sewaktu disuruh ibunya pergi menanam sawah di ladang orang, dan ia ditinggalkan dengan pamannya yang dikala itu telah tua dan tinggal bersama di rumah. Ayahnya sudah lama meninggal, sewaktu ibunya melahirkan saudaranya yang ke lima. Ia adalah anak perempuan satu-satunya. Saat itu usianya masih 8 tahun. Beberapa kali kejadian perkosaan itu terjadi sampai saat ia berusia 13 tahun. Ia tidak membocorkan aib ini karena takut ancaman akan dibunuh pamannya. Sehingga akhirnya ia melarikan diri ke pesantren di desa tetangga. Dan sampai selesai bersekolah SMP, ia menikah dan tinggal dengan mertua.
Suami yang berselingkuh dengan wanita lain membuatnya depresi bagai roda kelam pahit tiada akhirnya, sampai ia harus melahirkan ke 4 anaknya dan membesarkannya sendiri. Keputusasaan akan terperosok batinnya bagai tiada hujung sampai suatu saat ia memutuskan untuk berangkat mencari jati diri di kota luar, dengan cara meninggalkan ke 4 anaknya untuk sementara, jikalau tidak perasaan bunuh diri itu sudah merasuki jiwa raganya.
Ketenangannya yang jauh dari tanah air membuat ia banyak berpikir matang. Akankah ia berhasil tuk mempunyai rumah atap yang dicita-citakannya selama ini? Akan kudengar ceritamu kelak jika kamu masih ingat padaku.
Pewawancara: MARRIANA
No comments:
Post a Comment