Aku mengalami saat rasa syukur itu
mengubah hidupku, ketika aku mengadakan perjalanan ke pelosok seperti daerah,
kota dan kampung-kampung. Perasaan kesadaran yang meluap.
Seperti keadaan yang meledak-ledak
di dalam hatiku dan air yang melimpah ruah. Cinta yang menyerang seperti tidak
pernah kualami sebelumnya. Seperti banjir yang memenuhi dan menyebar ke segala
arah, tidak ada lagi yang tempat yang tersisa.
Aku merasa getaran elektromagnetik yang luar biasa dasyatnya menyelimuti seluruh jiwa ragaku. Kurasakan seluruh
tubuhku geli. Aku begitu jatuh cinta dengan seluruh ciptaan yang ada. Serasa
ingin memeluk sesiapapun yang kutemui. Aku tahu bahwa aku tidak dapat
melakukannya karena orang-orang mungkin berpikir aku gila, tapi masih saja
mereka bisa merasakannya. Kemanapun aku pergi, mereka akan menghampiriku dan
berkata, apa yang dapat dia lakukan untukku, bolehkan aku butuh bantuan mereka,
apakah aku perlu boncengan, atau mereka menawarkan aku makanan. Mereka hanya
ingin berada di sekelilingku.
Aku merasa bersatu dengan seluruh
ciptaanNya. Segala sesuatu adalah ciptaan cinta. Segala sesuatu adalah untuk
cinta. Aku melihat segalanya saling berkesinambungan dan segalanya adalah satu
dan semuanya sangat bercahaya dengan cinta yang sempurna indah dan elok.
Lihatlah, hanya dengan cinta aku
sanggup sampai ke titik itu, masuk ke dalam udara di sekelilingku. Orang
berkata, adakan perjalanan supaya kamu bisa merasakan perasaan yang sangat romantis
di dalam lubuk hatimu. Percayalah padaku, aku selalu duduk sendiri melihat
berbagai macam bentuk bangunan yang berbeda, gaya pakaian yang berbeda, situasi
yang sangat mempesonakan, sangat berbeda dibandingkan dengan tempat di mana aku
tinggal sekarang di Singapura.
Kehidupan lebih santai. Aku
melihat orang berjalan menikmati angin sepoi-sepoi. Jarang pemandangan seperti
ini di Singapura. Semua serba cepat. Waktu adalah uang di sini.
Aku jatuh cinta, cinta dan cinta
tapi bukan kepada seseorang yang khusus, hanya pada keadaaan sekitarku.
Perasaannya persis seperti ketika
aku pertama kali menerima ciuman pertama, lembut dan halus, seluruh tubuhku bergetar. Hatiku membengkak
penuh ketika aku memandang langit biru di atas. Perasaan apa ini yang kurasakan
dalam perutku, sepeti berjuta kupu-kupu yang putus asa ingin melarikan diri ketika
kala itu seorang lelaki melempar pandangannya ke arahku di seberang jalan?
Perasaan apa ini yang membuat air mataku jatuh ketika melihat orang buta be rada
di dalam bus dan sepasang angsa putih serta itik-itik hijau menyeberangi sungai
kecil?
Itu juga pasti cinta
Aku tahu cinta. Aku tahu aku
cinta kepada orangtuaku, tetapi aku juga merasakan cinta yang kuberikan
terhadap anak-anak banyolku. Adalah tujuanku memberikan cinta yang baik. Aku
merasakan lebih susah menerima cinta daripada memberikannya. Aku tidak begitu cukup
peduli akan mencintai diriku sendiri. Aku mengabaikannya sebaliknya memberikan
semua cinta yang ada.
Saat aku merasakan cinta,
perasaan itu membuatku berlinang dan menjadikanku lemah. Dicintai mengakibatkan
pertahananku runtuh tapi tetap aku cinta untuk mencintai. Aku menerima cinta
yang diberikan oleh anak-anak banyolanku tanpa ada alasan apapun. Cinta yang
lainnya patut dipertanyakan. Tetapi aku tahu cinta dapat menjadikan seseorang
kuat dan tanpa cinta segalanya tiada artinya.
Jadi aku akan menerima cinta dari
belahan jiwaku dengan penuh kemuliaan. Dan aku akan tetap meneruskan mencintai
orang buta di bus atau anak-anak yang tanpa bersepatu dan tanpa nama. Karena
aku sendiri adalah cinta.

