Apa yang kupikirkan? Mengapa buku novel yang hanya setebal 200 halaman tidak kelar-kelar kubaca selama 3 hari ini. Kalimat demi kalimat kubaca berulang-ulang dari titik satu ke titik yang lain, dan masih juga tidak mengerti. Lalu kuulang lagi membacanya, tapi masih juga tidak mengerti. Pikiranku selalu melayang ke pesan whatsapp yang kuterima belakangan ini dari seseorang yang memperhatikanku lain dari temanku lainnya. Tiap hari mendapat salam selamat pagi dan menanyakan apakah sudah makan belum, malam hari selamat tidur. Ada yang aneh kurasa, walau aku merasa geli saja, tapi tetap kujawab pesan-pesan singkat itu dengan sopan. Kupikir tidak ada salahnya menanggapi seseorang yang perhatian pada kita. Aku tidak mengerti mengapa tiba-tiba saja ada pesan-pesan ini terkirim, apa hal yang memicunya seperti ini? Kurasa aku biasa aja memperlakukan setiap orang, tetap ramah, terbuka tanpa ada maksud apa-apa. Aku berpikir keras tapi terus pikiran itu buntu, apa karena kukatakan figur tubuhnya yang macho? Padahal itu cuma bual-bualan kosong belaka yang keluar dari mulutku. Aku selalu memberikan kata-kata positif kepada setiap orang tidak terkecuali sekalipun, walau itu kepada tukang sapu, office boy, atau kepada hakim yang mengenalku. Apakah ia menjadi kesengsem dengan perkataanku yang keluar begitu saja dari mulutku dan ia menyimpannya dalam hatinya yang paling dalam? Geli rasanya
Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan akhirnya bulan berganti bulan, tak terasa pesan-pesan itu bergulir menjadi satu rutinitas dalam keseharianku. Ada sesuatu yang kosong jika pesan itu tidak muncul, aku akan menyapanya secara spontan dan otomatis. Kami menjadi teman akrab hanya lewat pesan tertulis, tempat mencurahkan isi hatiku yang terdalam, tempat aku menangis, tempat aku marah, terkadang aku tertidur dengan pesan-pesan yang kuketik separuh dan akhirnya terbangun keesokkannya dengan pesan yang belum terkirim. Kadang aku ingin sekali bertemu dengan si pengirim pesan ini, tetapi ada rasa ketakutan apa yang akan terjadi setelah ini, apakah setelah kami bertemu, tidak ada lagi pesan-pesan indah yang menemaniku setiap harinya? Apakah si pengirim mengabaikanku begitu saja setelah perasaan kegembiraan yang meluap-luap itu sirna setelah bertemu karena pesan tidak sama dengan kenyataan, apakah setelah bertemu aku akan kehilangan seorang pengagumku? Aku sudah sering merasakan perasaan ditinggal dan meninggalkan seseorang. Aku punya banyak ketakutan, jadi sebelum aku ditinggalkan lebih baik aku meninggalkan orang tersebut terlebih dahulu, agar hatiku tidak merasa begitu sakit.
Akhirnya saat yang kutunggu tiba juga, si pengirim mengatakan akan bertemu dengan ku di negara Filipina, suatu tempat yang asing dan belum pernah kujejaki, katanya pantainya indah, pasirnya putih. Apa yang akan kami kerjakan di sana? Tidak baik bagi sepasang lawan jenis berduaan di tempat yang asing dan melakukan segala sesuatu berdua selama beberapa hari. Tapi aku mengiyakan saja, walau hatiku mendua, aku ingin sekali berpetualang mencari sensasi baru dalam hidupku, aku ingin terbang ke dunia lain, aku ingin mengejar semua ketinggalanku, aku ingin bebas. Tapi setelah kami kembali ke Singapore tempat asalku, apakah si pengirim ini menghilang begitu saja dari kehidupanku? Aku tidak punya rantai yang mengikat nya, aku pasti merasa dikecewakan sekali, pasti aku jatuh berhari-hari di tempat tidurku menenggelamkan diriku dengan makan sebanyak-banyaknya yang tidak sehat, dan menonton acara televisi yang membosankan dengan tanpa tujuan dan mata sembab. Menyedihkan sekali bayangan diriku jika demikian. Lalu lamunanku terganggu dengan bunyi jingle pesan yang kubuat khusus dari dirinya, ia bertanya, bagaimana, apa sudah berpikir tentang ajakannya?
Dengan lamunanku sebelumnya, kujawab dengan pasti, aku tidak akan pergi, kecuali aku tahu betul bahwa kau adalah belahan hatiku, bahwa kau orang yang tepat kunikahi sampai akhir hayatku, lalu kita akan tua bersama, menukar diapers bersama, tiada lagi yang ditutupi dalam hidup ini. Aku katakan TIDAK dengan hurup besar dengan emoticon wajah tersenyum dan pipi yang merona, menandakan aku menolaknya secara lembut. Kemudian tidak ada jawaban di sana. Beberapa menit aku menunggu masih juga tidak ada bunyi jingle yang biasa terdengar di telingaku. Aku bisa merasakan ia marah dan kecewa. Aku cukup sedih, mengapa ia begitu kekanak-kanakan, bukan seorang lelaki seperti yang kelihatan dan dirasakan dalam setiap pesan kata-katanya, bukan seorang lelaki yang selama ini kubayangkan melindungiku dan mengerti keadaanku sebagai seorang wanita? Aku siap dan tegar jika dengan jawaban TIDAK itu aku kehilangan seorang pengecut. Justru dengan demikian aku tahu kemana arah tujuan semua pesan-pesan yang kuterima selama ini. Lebih baik aku sakit hati di awal daripada aku sakit hati di akhir. Air mataku menetes satu-satu, begitu semua lelaki, ketika dihadapkan dengan sesuatu tantangan di depan, mereka akan lari, apakah aku harus berganti peran menjadi lelaki? Jikalau aku lelaki akan kuambil dan kujaga wanita ini yang selama ini berkirim pesan padaku dengan segala curahan hatinya yang terdalam dan menjalani hidup bersama karena aku mengenalnya seperti aku mengenal diriku sendiri. Inilah aku sebagai lelaki. Aku mau membagikan kesedihan, kebahagiaan dan cintaku pada wanita yang selama berbulan-bulan setia menemani hari-hari pahitku dan tiada seorangpun yang setia menjawab pesan-pesan panjang yang membuatku terbahak-bahak dan tersenyum seorang diri di saat-saat tepat waktu aku membutuhkan seseorang. Ahhh klise…aku kembali menjadi diriku sendiri, aku wanita dengan pelan kuseka air mataku di pipi.
Aku tidak mengirimi pesan lagi kepadanya, ia pergi dari hidupku, esoknya, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan. Hingga suatu petang saat aku duduk di kafe sambil menikmati teh hangat, aku mendapat pesan dari seseorang yang kukenal. Kutanya apakah ia sudah menemukan tambatan hatinya? Katanya ia baru diputusin. Aku tertawa mengejek dalam hatiku, o…karena hal itu ia menghilang, jelas sudah. Tapi hatiku sudah tidak tertarik lagi pada kiriman pesannya. Karena aku tahu dia bukan soulmateku
Monday, 7 September 2015
WHATSAPP MAN?
Apa yang kupikirkan? Mengapa buku novel yang hanya setebal 200 halaman tidak kelar-kelar kubaca selama 3 hari ini. Kalimat demi kalimat kubaca berulang-ulang dari titik satu ke titik yang lain, dan masih juga tidak mengerti. Lalu kuulang lagi membacanya, tapi masih juga tidak mengerti. Pikiranku selalu melayang ke pesan whatsapp yang kuterima belakangan ini dari seseorang yang memperhatikanku lain dari temanku lainnya. Tiap hari mendapat salam selamat pagi dan menanyakan apakah sudah makan belum, malam hari selamat tidur. Ada yang aneh kurasa, walau aku merasa geli saja, tapi tetap kujawab pesan-pesan singkat itu dengan sopan. Kupikir tidak ada salahnya menanggapi seseorang yang perhatian pada kita. Aku tidak mengerti mengapa tiba-tiba saja ada pesan-pesan ini terkirim, apa hal yang memicunya seperti ini? Kurasa aku biasa aja memperlakukan setiap orang, tetap ramah, terbuka tanpa ada maksud apa-apa. Aku berpikir keras tapi terus pikiran itu buntu, apa karena kukatakan figur tubuhnya yang macho? Padahal itu cuma bual-bualan kosong belaka yang keluar dari mulutku. Aku selalu memberikan kata-kata positif kepada setiap orang tidak terkecuali sekalipun, walau itu kepada tukang sapu, office boy, atau kepada hakim yang mengenalku. Apakah ia menjadi kesengsem dengan perkataanku yang keluar begitu saja dari mulutku dan ia menyimpannya dalam hatinya yang paling dalam? Geli rasanya
Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan akhirnya bulan berganti bulan, tak terasa pesan-pesan itu bergulir menjadi satu rutinitas dalam keseharianku. Ada sesuatu yang kosong jika pesan itu tidak muncul, aku akan menyapanya secara spontan dan otomatis. Kami menjadi teman akrab hanya lewat pesan tertulis, tempat mencurahkan isi hatiku yang terdalam, tempat aku menangis, tempat aku marah, terkadang aku tertidur dengan pesan-pesan yang kuketik separuh dan akhirnya terbangun keesokkannya dengan pesan yang belum terkirim. Kadang aku ingin sekali bertemu dengan si pengirim pesan ini, tetapi ada rasa ketakutan apa yang akan terjadi setelah ini, apakah setelah kami bertemu, tidak ada lagi pesan-pesan indah yang menemaniku setiap harinya? Apakah si pengirim mengabaikanku begitu saja setelah perasaan kegembiraan yang meluap-luap itu sirna setelah bertemu karena pesan tidak sama dengan kenyataan, apakah setelah bertemu aku akan kehilangan seorang pengagumku? Aku sudah sering merasakan perasaan ditinggal dan meninggalkan seseorang. Aku punya banyak ketakutan, jadi sebelum aku ditinggalkan lebih baik aku meninggalkan orang tersebut terlebih dahulu, agar hatiku tidak merasa begitu sakit.
Akhirnya saat yang kutunggu tiba juga, si pengirim mengatakan akan bertemu dengan ku di negara Filipina, suatu tempat yang asing dan belum pernah kujejaki, katanya pantainya indah, pasirnya putih. Apa yang akan kami kerjakan di sana? Tidak baik bagi sepasang lawan jenis berduaan di tempat yang asing dan melakukan segala sesuatu berdua selama beberapa hari. Tapi aku mengiyakan saja, walau hatiku mendua, aku ingin sekali berpetualang mencari sensasi baru dalam hidupku, aku ingin terbang ke dunia lain, aku ingin mengejar semua ketinggalanku, aku ingin bebas. Tapi setelah kami kembali ke Singapore tempat asalku, apakah si pengirim ini menghilang begitu saja dari kehidupanku? Aku tidak punya rantai yang mengikat nya, aku pasti merasa dikecewakan sekali, pasti aku jatuh berhari-hari di tempat tidurku menenggelamkan diriku dengan makan sebanyak-banyaknya yang tidak sehat, dan menonton acara televisi yang membosankan dengan tanpa tujuan dan mata sembab. Menyedihkan sekali bayangan diriku jika demikian. Lalu lamunanku terganggu dengan bunyi jingle pesan yang kubuat khusus dari dirinya, ia bertanya, bagaimana, apa sudah berpikir tentang ajakannya?
Dengan lamunanku sebelumnya, kujawab dengan pasti, aku tidak akan pergi, kecuali aku tahu betul bahwa kau adalah belahan hatiku, bahwa kau orang yang tepat kunikahi sampai akhir hayatku, lalu kita akan tua bersama, menukar diapers bersama, tiada lagi yang ditutupi dalam hidup ini. Aku katakan TIDAK dengan hurup besar dengan emoticon wajah tersenyum dan pipi yang merona, menandakan aku menolaknya secara lembut. Kemudian tidak ada jawaban di sana. Beberapa menit aku menunggu masih juga tidak ada bunyi jingle yang biasa terdengar di telingaku. Aku bisa merasakan ia marah dan kecewa. Aku cukup sedih, mengapa ia begitu kekanak-kanakan, bukan seorang lelaki seperti yang kelihatan dan dirasakan dalam setiap pesan kata-katanya, bukan seorang lelaki yang selama ini kubayangkan melindungiku dan mengerti keadaanku sebagai seorang wanita? Aku siap dan tegar jika dengan jawaban TIDAK itu aku kehilangan seorang pengecut. Justru dengan demikian aku tahu kemana arah tujuan semua pesan-pesan yang kuterima selama ini. Lebih baik aku sakit hati di awal daripada aku sakit hati di akhir. Air mataku menetes satu-satu, begitu semua lelaki, ketika dihadapkan dengan sesuatu tantangan di depan, mereka akan lari, apakah aku harus berganti peran menjadi lelaki? Jikalau aku lelaki akan kuambil dan kujaga wanita ini yang selama ini berkirim pesan padaku dengan segala curahan hatinya yang terdalam dan menjalani hidup bersama karena aku mengenalnya seperti aku mengenal diriku sendiri. Inilah aku sebagai lelaki. Aku mau membagikan kesedihan, kebahagiaan dan cintaku pada wanita yang selama berbulan-bulan setia menemani hari-hari pahitku dan tiada seorangpun yang setia menjawab pesan-pesan panjang yang membuatku terbahak-bahak dan tersenyum seorang diri di saat-saat tepat waktu aku membutuhkan seseorang. Ahhh klise…aku kembali menjadi diriku sendiri, aku wanita dengan pelan kuseka air mataku di pipi.
Aku tidak mengirimi pesan lagi kepadanya, ia pergi dari hidupku, esoknya, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan. Hingga suatu petang saat aku duduk di kafe sambil menikmati teh hangat, aku mendapat pesan dari seseorang yang kukenal. Kutanya apakah ia sudah menemukan tambatan hatinya? Katanya ia baru diputusin. Aku tertawa mengejek dalam hatiku, o…karena hal itu ia menghilang, jelas sudah. Tapi hatiku sudah tidak tertarik lagi pada kiriman pesannya. Karena aku tahu dia bukan soulmateku
Wednesday, 1 April 2015
ITU JUGA PASTI CINTA - Indonesian version of THAT TOO IS SURELY LOVE
Aku mengalami saat rasa syukur itu
mengubah hidupku, ketika aku mengadakan perjalanan ke pelosok seperti daerah,
kota dan kampung-kampung. Perasaan kesadaran yang meluap.
Seperti keadaan yang meledak-ledak
di dalam hatiku dan air yang melimpah ruah. Cinta yang menyerang seperti tidak
pernah kualami sebelumnya. Seperti banjir yang memenuhi dan menyebar ke segala
arah, tidak ada lagi yang tempat yang tersisa.
Aku merasa getaran elektromagnetik yang luar biasa dasyatnya menyelimuti seluruh jiwa ragaku. Kurasakan seluruh
tubuhku geli. Aku begitu jatuh cinta dengan seluruh ciptaan yang ada. Serasa
ingin memeluk sesiapapun yang kutemui. Aku tahu bahwa aku tidak dapat
melakukannya karena orang-orang mungkin berpikir aku gila, tapi masih saja
mereka bisa merasakannya. Kemanapun aku pergi, mereka akan menghampiriku dan
berkata, apa yang dapat dia lakukan untukku, bolehkan aku butuh bantuan mereka,
apakah aku perlu boncengan, atau mereka menawarkan aku makanan. Mereka hanya
ingin berada di sekelilingku.
Aku merasa bersatu dengan seluruh
ciptaanNya. Segala sesuatu adalah ciptaan cinta. Segala sesuatu adalah untuk
cinta. Aku melihat segalanya saling berkesinambungan dan segalanya adalah satu
dan semuanya sangat bercahaya dengan cinta yang sempurna indah dan elok.
Lihatlah, hanya dengan cinta aku
sanggup sampai ke titik itu, masuk ke dalam udara di sekelilingku. Orang
berkata, adakan perjalanan supaya kamu bisa merasakan perasaan yang sangat romantis
di dalam lubuk hatimu. Percayalah padaku, aku selalu duduk sendiri melihat
berbagai macam bentuk bangunan yang berbeda, gaya pakaian yang berbeda, situasi
yang sangat mempesonakan, sangat berbeda dibandingkan dengan tempat di mana aku
tinggal sekarang di Singapura.
Kehidupan lebih santai. Aku
melihat orang berjalan menikmati angin sepoi-sepoi. Jarang pemandangan seperti
ini di Singapura. Semua serba cepat. Waktu adalah uang di sini.
Aku jatuh cinta, cinta dan cinta
tapi bukan kepada seseorang yang khusus, hanya pada keadaaan sekitarku.
Perasaannya persis seperti ketika
aku pertama kali menerima ciuman pertama, lembut dan halus, seluruh tubuhku bergetar. Hatiku membengkak
penuh ketika aku memandang langit biru di atas. Perasaan apa ini yang kurasakan
dalam perutku, sepeti berjuta kupu-kupu yang putus asa ingin melarikan diri ketika
kala itu seorang lelaki melempar pandangannya ke arahku di seberang jalan?
Perasaan apa ini yang membuat air mataku jatuh ketika melihat orang buta be rada
di dalam bus dan sepasang angsa putih serta itik-itik hijau menyeberangi sungai
kecil?
Itu juga pasti cinta
Aku tahu cinta. Aku tahu aku
cinta kepada orangtuaku, tetapi aku juga merasakan cinta yang kuberikan
terhadap anak-anak banyolku. Adalah tujuanku memberikan cinta yang baik. Aku
merasakan lebih susah menerima cinta daripada memberikannya. Aku tidak begitu cukup
peduli akan mencintai diriku sendiri. Aku mengabaikannya sebaliknya memberikan
semua cinta yang ada.
Saat aku merasakan cinta,
perasaan itu membuatku berlinang dan menjadikanku lemah. Dicintai mengakibatkan
pertahananku runtuh tapi tetap aku cinta untuk mencintai. Aku menerima cinta
yang diberikan oleh anak-anak banyolanku tanpa ada alasan apapun. Cinta yang
lainnya patut dipertanyakan. Tetapi aku tahu cinta dapat menjadikan seseorang
kuat dan tanpa cinta segalanya tiada artinya.
Jadi aku akan menerima cinta dari
belahan jiwaku dengan penuh kemuliaan. Dan aku akan tetap meneruskan mencintai
orang buta di bus atau anak-anak yang tanpa bersepatu dan tanpa nama. Karena
aku sendiri adalah cinta.
THAT TOO IS SURELY LOVE
I experience the moment of grace that change my life, when I
travelled through provinces, districts, cities or villages. It was an awakening feeling.
It was a specific damp burst in my heart and the waters overflowed,
the love that came over was never like anything that I experienced before. Like the
flood is all consuming and composing. It hardly contains it.
I felt electrified. My body was tingling all over. I was so in love with the whole creation that I wanted to hug anyone I met. I knew that I could not do that because everyone would think I was crazy, still people could feel it. Everywhere I went people would come up to me and said what could I do for you, can I help you, can I give you a ride, can I get you some food. They wanted to be just around me.
I felt electrified. My body was tingling all over. I was so in love with the whole creation that I wanted to hug anyone I met. I knew that I could not do that because everyone would think I was crazy, still people could feel it. Everywhere I went people would come up to me and said what could I do for you, can I help you, can I give you a ride, can I get you some food. They wanted to be just around me.
I felt union with the whole creation. Everything is a creation of
love. Everything is posing with love. I saw everything is connected and
everything is one and everything is radiant with this exquisite aesthetic love.
Only love, you see, could get me on that stage, into the air of my surroundings. People say do travel so that you can feel the most romantic feeling inside you. Trust me, I was sitting alone seeing different shape of buildings, different kind of fashions, the fascinating situations different than where I live now in Singapore.
Life is much more relax. I like seeing people walking and just enjoying the breeze. You hardly see Singaporeans like that. All is rush. Time is money here.
I fall in love, love and love but to no specific person. It is just to the surroundings me,
I fall in love, love and love but to no specific person. It is just to the surroundings me,
The feeling is like you just have the first kiss, soft and tender, whole of my body shaken. My heart was swollen when I looked at the blue sky. What was it I felt in my stomach like a thousand butterflies desperate to escape when someone threw me a glance across the street? What was it that makes my eyes filled with tears when I saw the blind man on the bus and the couple of white goose and green ducks crossing the small river?
That, too, is surely love.
I know love. I know I love my parent, but I can feel the love I have for my rascals. It is my purpose to give good love. I have found it hard to receive love, for to receive it is much more difficult than to give. I have not cared enough about the love of myself, I have abandoned it, in lieu of the gift of giving.
When I feel love, it makes me cry and it makes me weak. It reduces my defences, but still I love to love. I accept the love my rascals give without question. All other loves are interrogated. But I know love can make me strong and without it I will be truly nothing.
So I will accept receipt of the love of my soul mate with all the grace. But I will go on loving the blind man on the bus or the child with no shoes and no name. For I, too, am love
So I will accept receipt of the love of my soul mate with all the grace. But I will go on loving the blind man on the bus or the child with no shoes and no name. For I, too, am love
Sunday, 22 March 2015
THE SAID ACID MOONLIGHT
Pain in solitude
Waiting enduring without certainty
Daily gripping
Crossed with seconds distress
I have been to that world
Looking for your graven frozen stare
I touch you but you still did not budge
cries muffled
Tears slowly decomposes
Know thee tenderness
Deeper than murder
Slow but sure
Looked at me, at the eyes of my heart
Break the rock of your hardness flesh
Swinging your arms and your ways
through this purplish aura
I have said, the said acid moonlight
If thee looking glass
Looked like a full moon
Conform affection
Punya Sayap
Audrey Taletha Dewichia
Waiting enduring without certainty
Daily gripping
Crossed with seconds distress
I have been to that world
Looking for your graven frozen stare
I touch you but you still did not budge
cries muffled
Tears slowly decomposes
Know thee tenderness
Deeper than murder
Slow but sure
Looked at me, at the eyes of my heart
Break the rock of your hardness flesh
Swinging your arms and your ways
through this purplish aura
I have said, the said acid moonlight
If thee looking glass
Looked like a full moon
Conform affection
Punya Sayap
Audrey Taletha Dewichia
KATAKU KATA ASAM
Sakit dalam kesendirian
Penantian abadi yang tanpa kepastian
Keseharian yang mencekam
Dilalui dengan detik-detik perasaan tertekan
Saya sudah sampai ke dunia sana
Mencari patungmu yang beku terpaku
Saya menyentuhmu tapi engkau tetap tidak bergeming
Tangis tertahan
Air mata terurai perlahan
Tidak tahukah dikau keperihan
Yang lebih dalam dari pembunuhan
Pelan tapi pasti
Pandangi aku, tatapi mata hatiku
Pecahkan kekerasan batu dagingmu
Ayunkan lengan dan langkahmu
lalui aura keunguan ini
Kataku kata asam kata sinar bulan
Kalau dikau memandang kaca
Memandang seperti sinar bulan purnama
Tunduk kasih sayang
Punya Kim Sayap
Marriana Tjia Mendrofa Monterez
Penantian abadi yang tanpa kepastian
Keseharian yang mencekam
Dilalui dengan detik-detik perasaan tertekan
Saya sudah sampai ke dunia sana
Mencari patungmu yang beku terpaku
Saya menyentuhmu tapi engkau tetap tidak bergeming
Tangis tertahan
Air mata terurai perlahan
Tidak tahukah dikau keperihan
Yang lebih dalam dari pembunuhan
Pelan tapi pasti
Pandangi aku, tatapi mata hatiku
Pecahkan kekerasan batu dagingmu
Ayunkan lengan dan langkahmu
lalui aura keunguan ini
Kataku kata asam kata sinar bulan
Kalau dikau memandang kaca
Memandang seperti sinar bulan purnama
Tunduk kasih sayang
Punya Kim Sayap
Marriana Tjia Mendrofa Monterez
Subscribe to:
Comments (Atom)

