Friday, 18 April 2014

WAJAH IDAMAN

Sosokmu selalu kubayangkan sewaktu masa kanak-kanak

Tulang pipi yang tinggi, muka tirus, senyum yang menawan

Hidung kecil yang mancung, bibir yang tidak tipis dan tidaktebal

Rambut hitam yang disisir belah pinggir 


Tinggi yang semampai, badan ramping tidak terlalu kurus

Itu semua ada pada sosok dan perawankan papaku

Papa yang sudah meninggalkan kami

Akankah ia muncul menggantikan bayangan dirinya 


Yang kukatakan adalah perawakan dan fitur mukanya

Yang sangat menarik hati dan kalbu terdalam

Imaginasi itu tidak akan pernah sirna

Akan kucari terus sampai akhir hayat


Anakku lelaki yang kedua punya sosok seperti itu

Mungkin karena imaginasi ku terlalu kuat

Sehingga ia terlahir percis seperti wajah kakeknya

Wajah yang menawan isi hati setiap wanita 


Adakah waktu berpihak padaku

Ku terbang dengan kepak sayapku

Melalang buana mencari wajah impian dan imaginasi

Papaku yang hilang dan sirna dari dunia ini

Wednesday, 9 April 2014

SEGETIR HARAPAN

Apakah masih ada kata maaf, belas kasihan dan pengampunan di hati para manusia yang bersifat individu yang sangat mementingkan diri sendiri dan berpusat pada egosentrisme saja?

Kuwawancarai seorang wanita yang usianya jauh lebih muda dari perawakannya yang sederhana, terkesan tidak bersemangat, lemas dan pesimis dalam menghadapi hidup. 

Ketika ditanyai pengalaman apa yang paling buruk yang pernah ia alami sepanjang umur hidupnya. Dengan air mata menetes cepat sekali saja, ia mengatakan bahwa ia pernah diperkosa pada masa kanak-kanaknya. 
Dan ketika ditanyai pengalaman apa yang paling indah yang pernah ia alami sepanjang umur hidupnya. Jujur aku lupa apa yang dia katakan...hmm mungkin hampir tidak ada. 

Perempuan yang boleh dikatakan tidak begitu jelek ini berasal dari keluarga miskin. Orang tuanya sudah meninggal. Saudara-saudaranya tidak memperdulikannya. Apakah hidup yang keras dan sulit ini membuat hubungan persaudaraan tidaklah harmonis dan dekat? Yang kurasakan dalam pancaran wajah dan bahasa tubuhnya, ia sangat sedih dan terkesan kesepian. Suram pekat menghantui kehidupannya. Hidupnya juga sudah bercerai dengan empat anaknya yang dihidupi oleh mantan suaminya di Indonesia. Sedangkan ia mencari rezeki di kota keras metropolitan internasional yang membutuhkan ketrampilan, kecekatan, dan ketabahan akan segala rintangan dan halangan yang tidak segan-segan merobek-robek harga dirinya. 

Tujuannya adalah hanya sekedar mempunyai rumah atap di kampung halamannya dan melihat anak-anaknya tumbuh besar. Hanyalah keinginan yang mendasar bagi setiap orang supaya mempunyai shelter untuk tempat perlindungan dan keluarga sebagai teman di saat kapanpun juga. 

Kembali lagi aku mempertanyakan pengalaman masa lalunya, ternyata pamannyalah sendiri yang memperkosanya sewaktu disuruh ibunya pergi menanam sawah di ladang orang, dan ia ditinggalkan dengan pamannya yang dikala itu telah tua dan tinggal bersama di rumah. Ayahnya sudah lama meninggal, sewaktu ibunya melahirkan saudaranya yang ke lima. Ia adalah anak perempuan satu-satunya. Saat itu usianya masih 8 tahun. Beberapa kali kejadian perkosaan itu terjadi sampai saat ia berusia 13 tahun. Ia tidak membocorkan aib ini karena takut ancaman akan dibunuh pamannya. Sehingga akhirnya ia melarikan diri ke pesantren di desa tetangga. Dan sampai selesai bersekolah SMP, ia menikah dan tinggal dengan mertua. 

Suami yang berselingkuh dengan wanita lain membuatnya depresi bagai roda kelam pahit tiada akhirnya, sampai ia harus melahirkan ke 4 anaknya dan membesarkannya sendiri. Keputusasaan akan terperosok batinnya bagai tiada hujung sampai suatu saat ia memutuskan untuk berangkat mencari jati diri di kota luar, dengan cara meninggalkan ke 4 anaknya untuk sementara, jikalau tidak perasaan bunuh diri itu sudah merasuki jiwa raganya. 

Ketenangannya yang jauh dari tanah air membuat ia banyak berpikir matang. Akankah ia berhasil tuk mempunyai rumah atap yang dicita-citakannya selama ini? Akan kudengar ceritamu kelak jika kamu masih ingat padaku. 

Pewawancara: MARRIANA


Tuesday, 8 April 2014

UJIAN MCQ DAN PENIPUAN

Tanggal 8 April 2014

Aku baru pulang dari ujian MCQ, kaki bengkak, kepala pening, leher tegang, tapi perasaan lega, gembira dan sportif meliputi perasaanku. Setelah aku menyelediki semua bukti-bukti yang nyata tadi melihat gelagat dari teman-teman sekelasku, aku sekarang merasa bulat keyakinanaku bahwa tadi mereka menipu sewaktu ujian tadi. Orang tidak bisa menipuku karena pekerjaanku setiap hari melihat penipu, bahasa tubuh dan wajah sudah kukenali lebih dalam sampai ke lubuk hati seseorang. Di sinilah keahlianku kuterapkan. Tapi karena kalian cuma teman sekelasku, aku tidak menganggap kalian tersangka atau terdakwa. Perasaanku hanya merasa tidak adil, walau aku tidak punya perasaan negatif terhadap kalian. Karena selama berminggu-minggu duduk di meja rumahku yang isinya penuh dengan buku-buku dan kertas materi pelajaran. Tidak adil bahwa aku harus menyediakan seluruh waktu, pikiran, tenaga, dan merelakan pekerjaanku dan pemasukanku tapi kalian hanya berfoya-foya, bersenang-senang dengan lembaran kertas ujian bocoran dari kelas sehari sebelumnya. Apakah aku tolol? Apakah aku tidak punya koneksi?

Kembali lagi aku mempertanyakan dimana letak keadilan di sini? Aku bersyukur bahwa aku menyelesaikan ujianku dengan baik tadi. Aku merasa aku lulus walau belum keluar hasilnya, aku sudah merasa yakin. Kalau aku yakin, ya yakin. Cuma ada ya dan tidak saja. Straight forward karakterku. YA katakan YA. TIDAK katakan TIDAK. Karena sewaktu kecil sudah dilatih dari mama yang jujurnya minta ampun, wong ndeso, ya begitulah. Kerja juga berkaitan dengan KEADILAN dan KEJUJURAN. ya sudah klop sudah. Sampai-sampai aku adalah ahlinya dalam memecahkan kasus-kasus kriminal besar. Setiap hari yang kuhadapi PENIPU, PENJILAT. Kalau sudah demikian, tidak segan-segan lengkingan suaraku terdengar sampai ke beberapa gedung kantor tempat kerjaku. Aih mereka sudah tau siapa asal pemilik suara alto ini. Aku kerja dengan dedikasi yang tinggi.

Kembali lagi ke topik penipuan kertas ujian, biarlah semua itu ada hikmahnya. Aku hanya bersyukur punya teman-teman yang baik hati yang berdoa bersama buatku untuk ujian demi ujian. Teman yang sangat baik hati. Mengirim sms tiada henti2nya, kadang lucu terasa, kok baik sekali ya. Itu teman yang Tuhan kirim. yang gak mengirim gak akan merasa, tapi yang mengirim sampai detik2 ujian pasti terkena hatinya dengan tulisan ini, walau harus kuterjemahkan dalam bahasa Inggris, karena sebagian besar mereka tidak mengerti. Haha kesian deh lu. Thanks sirs, thanks friends, thanks han, mer and my sons. Sorry belakangan ini mommy marah karena sangat stress belajar dengan keadaan kaki bengkak, pinggang sakit, kepala sakit, semua badan sakit.

Terima kasih Tuhan atas berkat Mu yang berkelimpahan atasku tiap hari. Berkat kerja dan uang itu selalu mengalir saja setiap harinya. Cukup melimpah...

Tuesday, 4 March 2014

KIDS

'Stand up straight,' said mom to Jude.
'Faster eat,' said mom to Nathan.
Do not eat tidbits so much
Do not say 'shit, shut up, stupid or other harsh words' to your brother coz mom does not like
Say 'thank you'
Say 'please'
Say 'sorry'
Bath and shampoo your hair
Sleep on time
Brush your teeth
Change your clothes
No chatting in beds
Tomorrow you can't wake up for school


If then we kids
Cause such a fuss,
Why does mom go on
Having us?


---


But after mom thought that mom is not perfect also...
Mom realized

Mom cried
Mom felt guilty
Mom LOVES YOU UNTIL THE END OF THE WORLD
Even after mom die...remember that


Mom talks gently
Mom applies lotion for Jude
Mom messages Nathan
Mom cooks healthy food


Mom is brave, strong, moves on because of you
Mom tears every time seeing the miracle happens all the time when mom just says AMEN after PRAYERS...

Just wanna see you be independent
Mom will finish mom's duty

We go out and eat something nice
We cycle and explore Punggol Waterways until Sengkang and Tampines through Park Connector
Green, Clean and Fresh


Study well, mom never gets angry if you are fail
But in fact you are the best in your Chinese, English, Maths and Science

You are already success in your study
Keep positive words in your minds and hearts
We will have a better lives together...one day
God is our provider in every little things in our lives


To my both sons, 

JUDE FAITH CHUA YOU DE

NATHAN HOPE CHUA YOU WANG

the apples of my eyes

the shadows on the sand

the reflection of our mischievous characters

we are inclined in arts

 happy moments together

 we overcome any challenge circumstances together

 you like mom's lousy cooking

 we cycle and explore new things

mom is proud of you in your band school



Monday, 3 March 2014

GEMBEL

Tidur di emperan bermantel belel
Terbuat dari kain flanel
Tidak menutupi udel
Yang diberikan Ariel...

Di tepi ada sesuatu tergantung yang dicantel
Radio kecil yang disetel
Sayup-sayup terdengar suara bukan mentel
Adele...

Mengendus anjing pudel
Bertali leher pastel
Karena si gembel
Makan apel...

Kujepret dengan tustel
si gembel mengomel
lalu ia melapor kepada intel

Foto kukirim pake excel
ke juri kompetisi panel
lewat email

Well...
aku di bel
oleh juri panel
katanya dia mau ngapel 
padahal aku sedang ngepel

Si Juri panel
Giginya sompel
Ngomongnya cadel
Mukanya tompel
Kukunyah karamel 
Sambil ngedumel

Yell...
Yell...
Yell...
fotoku menang dengan hadiah nobel

Eitssss...bukan karena juri panel 
tapi karena otakku dobel

Sunday, 2 March 2014

A LITTLE RECOLLECTION ABOUT MY CHILDHOOD-POETRY

Where were you born?

In a place called hospital at Jalan Kuda, Medan. I spent my childhood at Jalan Teuku Umar, Indonesia.

I remember the first school I went to was in a small half wooden and wire wall classroom with cement floor. Yes, it was a small classroom in the small town. It was very exciting really - the classroom keeping the sun off, and a female teacher teaching me. Very exciting and I was very happy there.

Do you remember the sorts of games you played as a child?

I remember one game, hopscotch, jumping on one foot from square to square, with any beads or items that you hold in your hand and throw it in one square. If you loose one round, your friend will take over the turn alternatively. The one who finish the game first will be the winner.

What did you think of Singapore when you first arrived?

I thought it was terrible. It was like living under an inverted bowl of grey. It was the opposite of living in my comfort zone. Every flat door is closed, every body is very individualistic, and every thing is fast moving pace. I had a culture shock.

After all the colors of Singapore...

Oh, now I am like one of Singaporeans, my flat door is closed, I am private in some ways, and I do things very fast also. Singapore is a unique vibrant city, one of the world's leading commercial hubs, with the fourth-biggest financial centre and one of the five busiest ports. It ranks high in international ranking of education, healthcare, government transparency, and economic competitiveness.

After all the colors of Indonesia...

Oh, the most place I vow that I miss and love my home country no matter what happen. Although the way I think is like the western culture, learn from how Singaporeans. However my heart is still the eastern culture. If orang bule would want to test me, my response is terse to the point of being defensive. Because di sana tempat lahir beta...

Can you remember writing your first poem?

It was when I had a crush with somebody whom I hardly remember in my childhood years and when I saw my genius brother compiled his poetry sheets to a book. I was challenged! And here I am now a blogger.


Thursday, 27 February 2014

NGANTUK BERAT

Rasa kantuk luar biasa menyergap


Sesudah berhari-hari tugas menghambat


Samar-samar suara melenyap


Pada jam-jam kerja padat


Pandangan kabur mata terpejam


Desahan nafas berat tertahan


Berdiri duduk di sudut mendekam


Pada batin lemah yang tertekan


Pikiran kosong jauh melayang


Mati rasa sewaktu dicucuk pedang


Urat kendor karena kantuk menyerang


Pada pagi siang sore petang


Selamat malam padahal belum malam


Ke buaian ayunan yang mendalam


Di tengah-tengah lampu temaram


Pada mimpi aneh hitam putih buram


Kantuk


Peluk


Tunduk


tak..tik..tuk..