Banyak peristiwa kejadian dalam lokap (lock-up) tahanan sementara yang berlaku, terkadang karena kasus yang banyak persamaan tetapi pemeran utamanya saja yang berbeda, membuatku melupakannya begitu saja. Apa kata orang jikalau pekerjaan yang tiap hari dilakukan dan diulangi terus-menerus sepanjang tahun, sampai-sampai kita mengerjakannya dengan menutup mata saja sudah bisa diatasi. Peristiwa kejahatan seperti istilah di Singapura ini "kucing kurap" yang artinya bukan kucingnya yang kurapan secara hurufiah tetapi "sepele / terlalu gampang / mudah"; yang bisa diartikan kasus kejahatan yang ringan hukumannya, seperti mencuri uang dibawah S$250/-. Hukumannya hanya berupa pemberian Surat Peringatan, tetapi jikalau kejahatan yang sama diulangi di masa yang akan datang, maka kasus yang lama akan dibawa kembali semula.
Apa hubungannya judul di atas, Hari Ibu di Indonesia dengan Kasus Kejahatan, yang mana telah ku jelaskan salah satu contoh di atas adalah kejahatan pencurian? Interview 6 pasang mata ini sangat lekat terpatri dalam ingatanku secara total, mungkin sampai aku menutup mata, karena seorang ibu yang agak tua, kurus, kecil, kisut masai bekerja sebagai pembantu rumah tangga mencuri dari majikannya. Sebelum aku melihat dan bertemu dan mewawancara tersangka, saya bertanya kepada penyelidik apakah perkara kejahatannya secara singkat. Dan setiap kali aku mendengar istilah "theft as a servant" maka dibenakku mengatakan: ahhhh kucing kurap...tetapi setiap kali juga harapanku mereka mendapatkan peringatan saja. Kasihan...tapi karena sanking banyaknya peristiwa yang sama, maka hatiku menjadi kebal dan muak terkadang terhadap orang-orang yang mencari jalan mudah dalam menghadapi hidup ini dengan memanfaatkan orang lain.
Pertanyaan demi pertanyaan dilempar dari penyelidik dan aku sendiri, kami bekerja sebagai satu tim. Benak dan intuisiku tidak tinggal diam, setiap pertanyaan yang dilempar dijawab dengan tulus apa adanya diiringi dengan tangis yang tersendat oleh ibu tadi. Ia berusaha tegar tidak mengeluarkan air matanya di depan penyelidik, walau kata orang, tangis seorang perempuan bisa meluluh-lantakkan Puncak Mahameru. Tetapi ia tegar. Ia sudah berusaha meminta pinjaman uang kepada majikannya beberapa kali untuk membayar uang kuliah anaknya yang bersekolah di Indonesia tetapi selalu ditolak oleh majikannya. Ibu itu juga memohon supaya gajinya dapat dipotong dimuka, agar anaknya yang baru saja mendaftar di perkuliahan lancar dan diterima dengan baik. Ibu itu sudah bekerja hampir setahun tetapi masa potongan dengan agen belumlah terlunaskan. Sebenarnya Ibu itu sama seperti budak yang tidak dibayar apapun, tangannya yang berkerut kurus dan rusak terlihat akibat deterjen yang digunakan tanpa diberikan sarung tangan oleh majikannya. Melihat ini, air mataku tidak terbendung di pelupuk mataku, karena aku juga mempunyai tangan seperti seorang pembantu, urat-urat hijau terlihat jelas dan besar di kedua punggung tanganku. Aku tahu bagaimana rasa sakit hidup ini sehingga membuat tanganku seperti ini. Tetapi aku menyembunyikan mukaku menjauh dari ibu tersebut dan tentu saja penyelidik. Aku tidak boleh sedikitpun larut terbawa perasaan sewaktu aku bekerja, lain halnya jika di luar dari tempat itu, aku akan selalu memberikan ketegaran terhadap siapapun yang membutuhkan, sampai-sampai menangis bersama.
Ibu tadi mempunyai harapan yang besar terhadap anaknya untuk dapat menyekolahkan anaknya sampai pada level yang tinggi. Suaminya yang sudah pergi meninggalkannya sejak lama karena tidak mau bertanggung-jawab. Fenomena yang terjadi di Indonesia, dimana istri bekerja dan suami tidak bekerja, sang istri mudah mendapatkan pekerjaan, karena tenaga pembantu rumah tangga asing sangat dibutuhkan. Disebaliknya, sang suami tidak bisa mendapatkan pekerjaan karena kurangnya lapangan pekerjaan untuk lelaki yang pendidikannya rendah. Menurutku ini semua alasan semata bagi orang-orang yang malas bekerja.
Aku salut dengan harapan ibu itu karena dengan memberikan pendidikan kepada anaknya, maka mereka bisa merubah nasib agar lebih baik. Tetapi karena keadaan yang mendesak, ibu itu mencuri dan akhirnya diborgol tangan yang kurus kering lecet itu dan merasakan apa bentuk penjara di Singapura. Dingin sedingin-dinginnya, makanannya cuma nasi dicampur toge dan biji-biji jagung rebus.
Keesokan harinya aku menjumpainya di pengadilan dan aku tidak kuat memandang matanya, aku hanya berkata dengan lembut untuk terus bertahan dan menguatkan hati, masih ada yang menunggunya pulang di Indonesia setelah ia menjalani hukumannya. Teruslah berharap dan berjuang tapi kali ini jangan berbuat dosa lagi. Iba, itu kata hatiku yang selalu kubawa sampai mati. Aku selalu mengampuni orang yang mengakui kesalahannya dengan lapang dada dan jujur.
Selamat Hari Ibu. Surga berada di bawah telapak kaki Ibu. Sayang mama. Teruntuk Mama di Medan. Ananda sudah dibesarkan dengan caramu. Ananda tabah, kuat dan tegar selalu walau apapun juga...
![]() |
| Ibunda dan Ananda beserta cucunya di Medan (anak Oko&Jiso) |

maaf jika terlalu banyak kata yang terlewatkan tanpa diedit dulu, maklum sudah malam dan saya terlanjur berjanji untuk memulai menulis pada hari kedua ini dari cerita pertama seorang Penterjemah
ReplyDeleteJujur sekali isinya. Saya malah selalu menghindari topik yang bersinggungan dengan perasaan hati. Bisa meleleh air mata :P
ReplyDeleteSaran ya Mar: kalau bisa dibalik tema warnanya? Background putih dan tulisannya hitam. Mata saya yang sudah mulai rabun (usia...oh usia) mengalami kesulitan membaca huruf kecil dan rapat di atas background hitam ini :-)
wakakaka, rupanya sudah membuat orang menangis nih, bingung bingung aku bingung...lagu koesplus ya?
DeleteCi thanks yah untuk tulisannya, aku juga miris sekali mengingat banyak nya pahlawan devisa yang harus berakhir di penjara dan tiang gantungan dalam pergumulan mereka untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di negeri orang apapun latar belakangnya... pasti sulit sekali yah menghadapi ini setiap kali, aku saja tidak bisa menahan air mata...
ReplyDeletebagus juga terkadang lewat menangis kita lebih mengerti arti hidup dan menjalaninya dengan lebih baik ya
Delete@dyah, masih bingung nih makenya, kadang kalo mau edit bingung banget setelah di publish. makasih buat doronganya selalu ya, dyah mentor mar, salut ama kamu
ReplyDeleteMAr...lha ini sudah ganti kan setting-annya? Sudah enak kok utk membaca tulisannya. Kamu ganti dari dashboard kan? Sip lah. Nanti aku coba cari2 step by step info buat kamu dah
Delete